book review · daun yang jatuh tak pernah membenci angin · review buku · tere liye

Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin – Tere Liye Book Review

tumblr_mdhaoq3HYo1r19sono1_500

“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya.
Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus.”

264 halaman

Novel remaja

sinopsis

Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah, dan janji masa depan yang lebih baik.


Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini.


Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku masih dikepang dua.


Sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah… Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun… daun yang tidak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari tangkai pohonnya.

My Review

Setelah membaca buku karya Tere Liye hujan, aku tertarik untuk membaca buku Tere Liye laiinya lagi. Jadi, aku membaca buku ini. Dari judulnya saja sudah terlihat sangat meyakinkan. Judulnya sangat puitis dan sangat indah.

Buku ini bercerita tentang seorang kakak beradik bernama Tania dan Dede yang harus putus sekolah karena kehidupannya yang susah dan harus menjalani hari-hari menjadi pengamen. Suatu hari pada saat Tania dan Dede sedang mengamen, mereka bertemu dengan seorang pria bernama Danar. Sejak itulah konflik kisah ini dimulai.

Danar digambarkan sebagai sosok pria yang sangat baik hati dan menyayangi Tania dan Dede seperti adiknya sendiri. Danar adalah tipikal laki-laki yang bisa dibilang hampir sama dengan karakter laki-laki di buku lain. Tipikal laki-laki yang baik hati, suka membacakan buku dongeng kepada anak-anak, penyayang. Walaupun sifat Danar terlampau biasa, aku tetap bisa menyukai karakter ini.

Sedangkan Tania, adalah perempuan yang memiliki pendirian, keras kepala, dan jujur, ketika aku membaca banyak komentar oranglain mengenai buku ini, banyak yang tidak menyukai karakter Tania. Tapi aku menyukainya.

Alur buku ini sangat lambat. Sehingga saat membacanya pun aku sempat mengantuk di beberapa bagian. Ceritanya juga sangat biasa namun sungguh, akhir cerita ini sangat tidak tertebak dan menurutku akhirnya sangat sangat mengecewakan. Sama seperti buku Tere Liye lainnya contohnya seperti hujan, buku ini juga memiliki alur maju mundur. Entahlah, mungkin Tere Liye mamang mahir dalam membuat cerita beralur maju mundur. Ceritanya menjadi lebih menarik dan alur itu tidak membuat para pembaca bingung.

Aku tidak menyangka buku ini akan berakhir saja seperti itu tanpa penjelasan kuat. Maih banyak hal yang belum dijelaskan dibuku ini. Juju, aku sangat kecewa. Biasanya, Tere Liye akan menjelaskan semuanya bahkan hal kecil sedikitpun.

Awalnya, seperti yang kubilang diatas, aku menyukai karakter Danar. Namun setelah akhir cerita, sifat Danar yang tadinya penyayang, bertanggung jawab, mempunyai pendirian menjadi tidak lagi seperti itu. Ia menjadi laki-laki yang sangat kejam, tidak punya hati, tidak bertanggung jawab. Dan entahlah, aku benar-benar merasa kesal kepadanya. Sebenarnya sikap Danar yang tiba-tiba berubah ini membuatku merasa bingung. Jarang bukan sifat karakter novel yang tiba tiba berubah 180 derajat di akhir cerita?

Jujur ketika membaca buku ini aku sama sekali tidak mempunyai bayangan. Maksudku perbedaan usia diantara Danar dan Tania sangatlah jauh. Terkadang aku merasa ada hal yang menggangu dan sedikit aneh ketika Tania menceritakan Danar kepada temannya atau ketika Tania sedang ‘terbang’ ketika mendapatkan kalung dari Danar. Tania terlihat seperti gadis kecil yang masih tidak tahu apa-apa. Sedangkan Danar sudah terlihat seperti laki-laki dewasa yang sebentar lagi , cepat atau lambat akan menikah.

Buku ini juga sangat menyentuh hati. Kata-kata yang digunakan Tere Liye sangat sederhana dan puitis. Aku sempat merasa sedih ketika membaca buku ini. Kata-katanya sangat sangat dalam. Sangat menyentuh hati. Aku masih merasa kagum kepada Tere Liye, seorang laki-laki tapi bisa membuat cerita seperti ini dan kata-katanya sangat menyentuh. Buku ini juga sangat realistis, dan memberikan banyak pelajaran mengenai kehidupan.

Aku merekomendasikan buku ini kepada kalian yang menyukai cerita menyentuh dan menyukai cerita yang memiliki banyak benih-benih kehidupan. Tapi bagi kalian yang tidak menyukai cerita yang terlalu bertele-tele dan sad ending, kalian akan merasa kecewa setelah membaca buku ini.

Walaupun kali ini aku merasa sedikit kecewa, tapi aku akan mencoba untuk membaca karya Tere Liye lainnya lagi. 3 bintang untuk buku ini 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s